SEKILAS INFO
  • 1 tahun yang lalu / Untuk Memberi masukan dan pengaduan kirim email: kemasjidteratai@gmail.com  untuk Informasi dan layanan WA  0823 8650 5353
  • 1 tahun yang lalu / website resmi milik Masjid AL-A’LAA sebagai sarana untuk menyampaikan informasi kepada Jamaah Masjid AL-A’LAA perum taman teratai Kelurahan Sei Langkai Kecamatan sagulung Kota Batam.
WAKTU :

Ketika Sakit Menimpa Seorang Hamba

Terbit 11 Februari 2020 | Oleh : puji | Kategori : Uncategorized
Ketika Sakit Menimpa Seorang Hamba

Sakit yang menimpa seorang hamba dan dihadapi dengan sabar, pada hakikatnya merupakan rahmat Allah kepadanya. Dengan sebab itu, Allah menaikkan hamba tersebut kepada derajat yang lebih tinggi. Jadi, tidak sepantasnya seorang hamba berkeluh kesah dan tidak ridha ketika ditimpa sebuah penyakit. Sebab, Allah tidak akan memberi sebuah musibah kepada seorang hamba yang lebih besar dari kemampuan hamba menanggungnya.

Allah lmenjadikan sakit dan sehat sebagai ujian bagi hamba-hamba-Nya, agar terlihat siapa di antara mereka yang bersyukur dan siapa yang kufur, siapa yang bersabar dan siapa yang berkeluh kesah.

          وَنَبۡلُوكُم بِٱلشَّرِّ وَٱلۡخَيۡرِ فِتۡنَةٗۖ

        “Kami memberikan cobaan kepada kalian dengan kejelekan dan kebaikan sebagai fitnah (ujian).” (al-Anbiya’: 35)

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah menafsirkan ayat di atas, “Kami menguji kalian, terkadang dengan musibah dan terkadang dengan kenikmatan. Hingga Kami melihat siapa yang bersyukur dan siapa yang kufur, siapa yang bersabar dan siapa yang putus asa.

‘Ali bin Abi Thalhah berkata menukil dari Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma,

وَنَبۡلُوكُم

Maksudnya, Kami memberi cobaan kepada kalian.

بِٱلشَّرِّ وَٱلۡخَيۡرِ

Dengan kesempitan dan kelapangan, dengan kesehatan dan sakit, dengan kekayaan dan kemiskinan, dengan halal dan haram, dengan ketaatan dan maksiat, dengan petunjuk dan kesesatan.” (al-Mishbahul Munir fi Tahdzib Tafsir Ibni Katsir, asy-Syaikh Shafiyyur Rahman al-Mubarakfuri, hlm. 865)

Ketika sakit datang, terasa benar nikmatnya kesehatan. Terasa sekali kita telah lalai mensyukuri nikmat sehat.

Namun, seorang mukmin berbeda keadaannya dengan orang kebanyakan yang Allah ‘azza wa jalla sebutkan sifatnya,

          إِنَّ ٱلۡإِنسَٰنَ خُلِقَ هَلُوعًا ١٩ إِذَا مَسَّهُ ٱلشَّرُّ جَزُوعٗا ٢٠  وَإِذَا مَسَّهُ ٱلۡخَيۡرُ مَنُوعًا ٢١  إِلَّا ٱلۡمُصَلِّينَ ٢٢

        “Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ditimpa kesusahan, ia berkeluh kesah; dan apabila mendapat kebaikan. ia amat kikir. Kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat.” (al-Ma’arij: 1922)

Sakit yang diderita seorang mukmin, disadarinya sebagai ujian dari Allah ‘azza wa jalla. Kesehatan yang sebelumnya dia nikmati adalah juga ujian dari Allah ‘azza wa jalla. Ia tahu, semuanya adalah ujian dalam bentuknya berbeda. Dia hadapi ujian sakit itu dengan kesabaran, tanpa keluh kesah.

Al-Imam Ibnu Muflih al-Maqdisi rahimahullah dalam al-Adab asy-Syar’iyyah (2/174) menukilkan ucapan asy-Syaikh Majduddin dalam Syarhul Hidayah, “Tidak mengapa seorang yang sakit mengabarkan rasa sakit yang dia rasakan dengan tujuan yang benar, bukan untuk berkeluh kesah.

Al-Imam Ahmad rahimahullah membolehkan hal ini berdalil ucapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Aisyah radhiallahu ‘anha, ketika Aisyah berkata, “Sakitnya kepalaku!”

Beliau nmenanggapi dengan menyatakan, “Bahkan aku, ya Aisyah, juga merasakan sakit kepalaku!”

Ibnul Mubarak berdalil dengan ucapan Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sedang sakit, “Sungguh, engkau merasakan sakit yang sangat dan panas yang sangat tinggi.”

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَجَلْ، إِنِّي أُوْعَكُ كَمَا يُوْعَكُ رَجُلَانِ مِنْكُمْ

        “Ya, benar. Aku merasakan sakit yang sangat dan panas yang amat tinggi sebagaimana rasa sakit yang dirasakan oleh dua orang dari kalian.” (HR. al-Bukhari no. 5647 dan Muslim no. 2571)

Ingatlah! Apabila engkau ditimpa satu musibah, hakikatnya engkau dijaga dari musibah yang lain…

Saudariku muslimah….

Jadilah engkau sebagai mukminah yang kuat ketika sakit datang menimpamu. Apabila engkau diuji dengan satu penyakit yang ringan, pujilah Allah ‘azza wa jalla (mengucapkan alhamdulillah), karena engkau tidak ditimpa sakit yang parah.

Apabila engkau diberi sakit yang parah, pujilah Allah ‘azza wa jalla karena engkau tidak diberi sakit yang lebih parah dari sakitmu sekarang. Seandainya Allah menghendaki, niscaya Dia akan menimpakan yang lebih berat.

Apabila engkau diuji dengan berbagai penyakit, pujilah Allah ‘azza wa jalla dan bersyukurlah kepada-Nya. Sebab Dia tetap memberimu akal yang sehat. Seandainya Dia menghendaki, niscaya akan Dia cabut akal tersebut darimu.

Pujilah Allah karena masih memberikan penglihatan kepadamu. Engkau masih dapat melihat orang-orang di sekitarmu. Engkau masih dapat membaca Kitabullah yang mulia.

Pujilah Allah karena masih memberi kesehatan untuk lisanmu sehingga dapat engkau gunakan untuk berzikir. Dia masih memberimu pendengaran hingga engkau dapat mendengar bacaan zikir dan kalimat yang baik.

Betapa banyak manusia yang berangan-angan memiliki salah satu saja dari apa yang masih engkau miliki.

‘Urwah bin Az-Zubair rahimahullah pernah ditimpa musibah berupa kematian putranya. Di sisi lain, ia sendiri menderita sakit pada tubuhnya. Dengarkanlah ucapannya kepada Rabbnya yang sangat penyayang,

“Ya Allah, aku dahulu memiliki tujuh putra, lalu Engkau ambil satu dan Engkau sisakan enam untukku. Aku dahulu memiliki empat anggota tubuh (dua tangan dan dua kaki –pen.) lalu Engkau ambil satu darinya dan masih tersisa tiga untukku.

Sungguh, ketika memberikan musibah, Engkau masih memberikan kelapangan. Ketika mengambil sesuatu dari hamba-Mu, sungguh Engkau tetap menyisakan untuknya.” (Siyar A’lamin Nubala’, 4/431)

Diriwayatkan bahwa Umar ibnul al-Khaththab radhiallahu ‘anhu berkata, “Tidaklah aku ditimpa satu musibah, kecuali pada diriku ada empat kenikmatan yang Allah berikan:

  1. Musibah itu tidak menimpa agamaku,
  2. Musibah itu tidak lebih besar,
  3. Aku tidak diharamkan untuk ridha menerima musibah tersebut,
  4. Aku mengharap pahala dari Allah ‘azza wa jalla dengan musibah yang menimpaku.”

(Ma’al Maridh, hlm. 23

SebelumnyaAset Masjid SesudahnyaFaedah Sakit

Berita Lainnya

11 Februari 2020

Kunci Meraih Ampunan

11 Februari 2020

Faedah Sakit

0 Komentar